Sumut.Newsline.id | Nias Barat – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Nias Barat melakukan evaluasi terhadap pengadaan dan pemeliharaan ternak babi yang dilaksanakan oleh BUMDes dan difasilitasi Perumda Aneka Usaha dan Jasa Tanomo Kabupaten Nias Barat.
Kepala Dinas DKPP Nias Barat, Eka Setiaman Lomboe, menjelaskan bahwa pengadaan ternak babi tersebut dilaksanakan dalam dua tahap sebagai bagian dari kegiatan bantuan ternak kepada masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pengadaan ternak babi Tahap I dilaksanakan pada 12 Mei 2026 sebanyak 175 ekor. Ternak tersebut telah melalui uji laboratorium, dilengkapi surat keterangan kesehatan hewan dan sertifikat veteriner, serta melewati proses karantina di Sibolga dan Gunungsitoli,” jelas Eka.
Dalam proses pemeliharaan, lanjutnya, tercatat sebanyak 33 ekor ternak mati, sehingga saat ini terdapat 142 ekor yang masih hidup. Ternak tahap pertama tersebut telah memasuki masa pertumbuhan dan diperkirakan akan dipanen pada awal September 2026, dengan estimasi bobot badan sekitar 80–100 kilogram per ekor.
Sementara itu, pengadaan ternak babi tahap kedua dilaksanakan pada 27 Juni 2026 dengan jumlah sebanyak 397 ekor. Dari jumlah tersebut, tercatat 49 ekor mengalami kematian, sehingga sebanyak 348 ekor masih dalam pemeliharaan.
“Ternak Tahap II saat ini masih dalam masa pertumbuhan dengan estimasi bobot sekitar 35–65 kilogram per ekor dan direncanakan akan dipanen pada awal November 2026,” katanya.
Secara keseluruhan, Eka menyebutkan, jumlah ternak babi yang telah diadakan melalui dua tahap mencapai 572 ekor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 82 ekor atau 14,34 persen mengalami kematian, sedangkan 490 ekor atau 85,66 persen masih hidup dan dalam proses pemeliharaan.
Ditemukan Gejala Klinis, Dugaan ASF Perlu Pemeriksaan Laboratorium
Eka mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan terhadap ternak yang sakit maupun mati, ditemukan sejumlah gejala klinis yang perlu mendapat perhatian.
Pada sebagian ternak ditemukan gejala berupa kematian mendadak, tubuh atau kulit tampak kemerahan, serta keluarnya darah dari lubang hidung. Gejala tersebut mengarah pada dugaan infeksi African Swine Fever (ASF).
“ Namun, dugaan berdasarkan gejala klinis tersebut belum dapat dijadikan sebagai penetapan diagnosis. Untuk memastikan penyebabnya, diperlukan pemeriksaan atau pengujian laboratorium,” tegasnya.
Selain gejala tersebut, pihaknya juga menemukan ternak yang mengalami batuk serta beberapa ternak yang menunjukkan kelumpuhan yang diduga berkaitan dengan kekurangan kalsium atau gangguan mineral.
Menurut Eka, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesehatan ternak tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan penyakit menular, tetapi juga dipengaruhi manajemen pemeliharaan, pemenuhan kebutuhan nutrisi dan mineral, serta pengawasan kesehatan ternak.
Biosecurity dan Sanitasi Kandang Jadi Perhatian
Hasil evaluasi, kata Eka, juga menemukan sejumlah faktor yang diduga meningkatkan risiko terjadinya penyakit dan kematian ternak.
Di antaranya penerapan prosedur biosecurity yang belum dilakukan secara benar dan konsisten, baik oleh anak kandang maupun pihak lain yang beraktivitas di sekitar kandang.
“ Sanitasi kandang juga masih kurang baik. Penyemprotan disinfektan belum dilakukan secara optimal, terutama sebelum dan setelah seseorang memasuki area kandang,” ujarnya.
Selain itu, masih banyak masyarakat selain anak kandang yang berlalu-lalang di sekitar area kandang. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko masuknya agen penyakit melalui manusia, pakaian, alas kaki, peralatan maupun kendaraan.
Pengawasan terhadap akses keluar-masuk kandang juga dinilai belum optimal. Begitu pula pemantauan kesehatan ternak yang masih perlu ditingkatkan agar ternak yang mulai menunjukkan gejala sakit dapat segera mendapatkan penanganan.
Eka menegaskan, penerapan biosecurity yang ketat menjadi salah satu aspek penting yang harus diperbaiki dalam pemeliharaan ternak selanjutnya.
DKPP Dorong Perbaikan Pemeliharaan
Sebagai tindak lanjut, DKPP mendorong sejumlah langkah perbaikan, mulai dari memperketat penerapan biosecurity, membatasi akses masyarakat ke area kandang, meningkatkan sanitasi, hingga melakukan penyemprotan disinfektan secara rutin.
Pemantauan kesehatan ternak juga harus dilakukan setiap hari, terutama terhadap gejala demam, batuk, lemah, kemerahan pada kulit, perdarahan, kelumpuhan maupun gejala penyakit lainnya.
Ternak yang sakit juga perlu segera dipisahkan dari ternak sehat untuk mengurangi risiko penularan apabila terdapat penyakit menular.
Selain itu, kebutuhan pakan dan mineral, termasuk kalsium, perlu diperhatikan sesuai kondisi dan fase pertumbuhan ternak.
Penanganan bangkai ternak juga harus dilakukan secara tepat, termasuk penguburan pada lokasi yang sesuai dan tidak membuang bangkai ke sungai maupun lingkungan terbuka.
“ Apabila ditemukan peningkatan angka kematian atau gejala klinis yang mengarah pada penyakit menular seperti ASF, harus segera dilakukan koordinasi dengan petugas kesehatan hewan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebabnya,” jelas Eka.
DKPP juga mendorong pencatatan dan monitoring secara rutin, meliputi jumlah ternak, pertambahan bobot badan, ternak sakit, kematian, pemberian obat atau vitamin, serta kondisi kesehatan ternak.
Eka berharap langkah-langkah perbaikan tersebut dapat menjaga kesehatan ternak yang masih hidup, menekan angka kematian, sekaligus mendukung tercapainya target panen.
“ Untuk Tahap I ditargetkan panen pada awal September 2026, sedangkan Tahap II pada awal November 2026,” pungkasnya. (P.gulo/SNL)
Penulis : Peringatan Gulo
Editor : Peringatan Gulo








