Sumut. Newsline.id | Nias Barat – Pendidikan merupakan hak setiap anak Indonesia tanpa memandang tempat tinggal maupun kondisi ekonomi. Namun, hingga saat ini masih banyak daerah terpencil dan wilayah kepulauan yang menghadapi berbagai kendala dalam memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas. Mulai dari keterbatasan akses, minimnya fasilitas, hingga kurangnya tenaga pendidik menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Senin, (13/07/2026)
Salah satu tantangan terbesar adalah kondisi geografis yang sulit dijangkau. Di sejumlah wilayah kepulauan, siswa harus berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh atau menyeberangi sungai dan laut menggunakan perahu untuk menuju sekolah. Selain itu, masih banyak sekolah yang memiliki ruang belajar terbatas, belum memiliki laboratorium, perpustakaan, maupun akses internet yang memadai. Kondisi tersebut berdampak pada semangat belajar dan kualitas pendidikan yang diterima peserta didik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah belum meratanya distribusi tenaga pendidik. Banyak guru masih enggan bertugas di daerah terpencil karena keterbatasan sarana, akses transportasi yang sulit, serta minimnya fasilitas penunjang. Akibatnya, tidak sedikit sekolah mengalami kekurangan guru, bahkan seorang guru harus mengajar beberapa mata pelajaran sekaligus di luar bidang keahliannya.
Selain persoalan tenaga pendidik, penerapan kurikulum juga menjadi tantangan tersendiri. Kurikulum yang diterapkan secara seragam di seluruh Indonesia sering kali belum sepenuhnya menyesuaikan dengan karakteristik daerah, terutama di wilayah kepulauan. Materi pembelajaran yang kurang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari membuat siswa lebih sulit memahami pelajaran yang mereka terima.
“Kurikulum seharusnya tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai akademik, tetapi juga mampu mengembangkan potensi daerah dan memperkuat karakter peserta didik sesuai lingkungan tempat mereka hidup,” demikian pandangan yang sejalan dengan kebutuhan pendidikan di wilayah terpencil. Dengan pendekatan tersebut, proses belajar akan menjadi lebih kontekstual, menarik, dan mudah dipahami oleh siswa.
Di wilayah kepulauan, misalnya, pembelajaran dapat dikembangkan melalui potensi maritim, pelestarian lingkungan pesisir, pengelolaan sumber daya laut, serta pelestarian budaya lokal. Pendekatan berbasis kearifan lokal akan membantu peserta didik menghubungkan teori dengan praktik dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mampu membangun kecintaan terhadap daerahnya sendiri.
Keberhasilan penerapan kurikulum yang relevan tentu membutuhkan dukungan berbagai pihak. Pemerintah diharapkan terus meningkatkan pembangunan infrastruktur pendidikan, memperluas jaringan internet, memberikan insentif kepada guru yang bertugas di daerah terpencil, serta memperkuat program pelatihan agar guru mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Peran masyarakat juga sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung keberlangsungan pendidikan.
Pada akhirnya, pemerataan pendidikan bukan hanya tentang membangun sekolah, tetapi juga memastikan setiap anak Indonesia memperoleh kesempatan belajar yang sama tanpa terkendala oleh letak geografis. Dengan kurikulum yang relevan, dukungan pemerintah, tenaga pendidik yang berkualitas, serta partisipasi masyarakat, diharapkan kesenjangan pendidikan di daerah terpencil dan wilayah kepulauan dapat terus diperkecil sehingga seluruh generasi bangsa memiliki peluang yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Penulis:
Sarali Gulo
Mahasiswa RPL Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan
NIM: 250520207. (P.gulo)








