Newsline.id MADINA – Ratusan pedagang Pasar Baru Panyabungan mendatangi Kantor DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) pada Senin siang (8/9/2025).
Mereka menuntut DPRD dan Pemerintah Kabupaten Madina menonaktifkan Kepala Dinas Perdagangan karena dinilai tidak becus mengurus pasar dan justru menyusahkan para pedagang.
Aksi ini tidak hanya diikuti para pedagang, tetapi juga beberapa mahasiswa yang menyatakan solidaritas terhadap nasib pedagang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam orasinya, mereka menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya:
1. Mengaji ulang penetapan harga sewa kios Pasar Baru Panyabungan yang dinilai terlalu memberatkan, terlebih di tengah menurunnya daya beli masyarakat.
2. Meminta penetapan pembayaran pembukaan pasar baru dimulai pada Januari tahun mendatang.
3. Menghapus atau menurunkan retribusi pasar yang saat ini dipatok Rp2 juta per kios, yang sudah termasuk biaya kebersihan dan pelayanan, namun faktanya pedagang masih dipungut biaya tambahan untuk penggunaan toilet dan parkir.
4. Mengembalikan kios atau toko yang dikuasai ASN non-pedagang kepada pedagang yang benar-benar berjualan.
5. Mengusut dugaan permainan dalam pencabutan nomor kios yang dilakukan pengelola pasar, di mana beberapa pedagang lama yang kiosnya terbakar tidak diizinkan mengikuti pengundian nomor karena belum melunasi biaya bangunan yang sudah hangus.

Sejumlah pedagang juga menyoroti dugaan adanya praktik diskriminatif dalam pengelolaan pasar, sehingga sebagian dari mereka merasa diperlakukan tidak adil.
Ketua DPRD Madina, Erwin Efendi Lubis, turun langsung menemui massa aksi. Di hadapan para pedagang, Erwin berjanji akan segera memanggil pihak terkait dan mencari solusi secepatnya.
“Kami akan tindaklanjuti keluhan bapak dan ibu semua. DPRD akan memanggil dinas terkait untuk membicarakan permasalahan ini,” tegas Erwin.
Erwin juga berjanji, seluruh anggota Dewan akan turun langsung ke Pasar Baru untuk mendengar keluhan para pedagang.
Aksi unjuk rasa ini berjalan tertib, meski sempat memanas ketika beberapa pedagang membakar ban kekas akibat kecewa terhadap kinerja Dinas Perdagangan.
(D/red)










